Halaman

Minggu, 19 Januari 2020

FIRST MOMENT IN THE MANADO CITY


Bismillahhirrohmanirrohim..  

Banyak hal yang tidak bisa diucapkan, bahkan ucapan rasa syukur pun rasanya tidak akan cukup. Bahagia dan sebuah pengalaman baru yang tertata rapi dalam bait kenangan. Jarak seakan mengalah dan mempersatukan kita dalam persaudaraan demi tercapainya satu tujuan. Kita adalah keluarga meski tanpa hubungan dan ikatan darah yang sama.
“Kita bagai jajaran wayang di layar. Takdir hidup telah ditentukan oleh sang maha kuasa. Manusia hanya sekedar menjalani apa yang sudah digariskan. Bedanya dengan wayang, kita masih punya pilihan akan dibawa kemana arah hidup ini. Walau pada akhirnya Allah yang punya kuasa untuk mengabulkan keinginan itu atau tidak. Dan kuasa Allah lah yang mengabulkan keinginan kita yang memilih kota manado menjadi pengalaman pertama yang akan kita kunjungi bersama.
First day : Selasa, 14 januari 2020.
Tepat pukul 03:00 pagi alarm berbunyi dan membangunkanku dari mimpi yang indah, saat bangun aku mengucap doa dan rasa syukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah dibangunkan dalam keadaan sehat hari ini. Aku bangun dan segera mandi, tak lupa pula sebelum mandi aku sarapan terlebih dahulu. Sayangnya aku belum bisa sholat subuh kali ini karena fitrahnya wanita yang didatangi tamu sekali dalam sebulan. Setelah mengatur semua barang-barang yang akan kubawa akhirnya tiba saatnya aku pergi ketitik pertemuan yang akan diberangkatkan bersama pagi ini. Aku diantar oleh kakak sepupuku di masjid Agung baiturrahman limboto, ku lihat sudah banyak yang datang, sebagian kecilnya belum datang, dan sebelum berangkat kami semua diarahkan untuk sholat 2 rakaat sebelum perjalanan. Dan setelah semuanya telah tiba dilokasi dan peserta-nya lengkap seusai sholat akhirnya kita mengatur tempat duduk setiap orang yang telah di atur dan disediakan oleh panitia sesuai nama yang tertera didalam bus. Sayangnya aku dibuat pusing karena sedari tadi menunggu namaku yang tak kunjung kutemukan dalam tulisan yang terpampang disetiap bus. Dan ternyata setelah melapor bersama teman-temanku yang senasib akhirnya aku dan teman-teman kelompok-ku yang diarahkan ke dalam mobil bukan ke dalam bus. Aku,vina,TSuti, dan teman-teman kelompok Laki-laki yaitu Samsul,Ade dan Kak Sabry naik dalam mobil yang sama. Saat duduk aku mulai beradaptasi dengan teman-teman yang tidak ku kenal. Disinilah awal jiwa introvert-ku harus ku paksa untuk bisa menyesuaikan keadaan dan hati yang awal-nya tidak terbiasa dengan keramaian. Lama kelamaan aku pun mulai terbiasa dan nyaman berbicara dan sesekali bercanda dengan mereka. “Clara, kamu mabuk selama perjalanan tidak?” Tanya Vina.
“Alhamdulillah tidak,,Tergantung siapa yang membawa mobilnya.” Jawabku. Vina pun memberitahuku bahwa wahid yang membawa mobil kali ini adalah orang yang sangat suka melaju dalam berkendara. Dan alhasil apa yang dikatakan Vina benar, karena wahid sangat cepat membawa mobil saat pemberangkatan dimulai yang diawali oleh bus-bus yang berangkat di depan sebelum mobil kita meluncur. Saat mobil mulai meluncur kurasa masih dalam mode normal saja, tapi saat memasuki perjalanan ke isimu mobil kurasa kali ini bukan berpijak ditanah tapi seakan terbang melayang karena kecepatan mobil yang dibawa sangat cepat. Jantungku seakan mau keluar dari sarangnya karena saking takutnya merasakan dan melihat mobil melaju dengan kecepatan seperti ini, bahkan bus dan mobil dosen yang ikut dalam kegiatan ini yang paling depan saja sudah dilambung dan dilewati oleh mobil ini. Subhanallah... betapa takutnya aku merasakan pengalaman pertama yang disajikan dengan rasa takut karena kecepatan mobil yang dibawa oleh seorang yang bernama wahid kali ini. tapi dengan tenang dalam hati aku selalu berdoa agar diberi keselamatan oleh Allah selama perjalanan. Meski dalam keadaan yang was-was aku selalu tertawa bersama teman-teman karena pembahasan selama perjalanan berlangsung. Saat mendekati waktu dzuhur akhirnya kami diberhentikan dalam kediaman salah satu panitia yang bernama Karama. Kami istirahat, sholat dan makan terlebih dahulu dirumahnya. Ibunya karama sangat baik dan ramah dalam menyambut kedatangan kami. Setelah ishoma kami pun meminta izin kepada ibunya karama yang disapa dengan sebutan “Umi” untuk melanjutkan perjalanan. Saat perjalanan diteruskan tak banyak yang kami lakukan didalam mobil selain aku dan teman-temanku mulai mengantuk. Aku tak bisa tidur selama perjalanan karena takut dengan mobil yang selalu melaju dengan cepat ini. Aku pun hanya selalu memandangi pemandangan-pemandangan yang disajikan oleh alam semesta selama perjalanan. Pohon-pohon yang asri nan-hijau sangat memberi kesan ketenangan. Saat waktu ashar berlangsung hujan turun perlahan membahasi bumi. Kami pun berhenti disebuah masjid kecil yang terletak disebuah desa yang kami lewati. Wahid berkata dia sangat mengantuk maka kami pun memberi dia waktu sehabis sholat untuk tidur sejenak di masjid itu. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan. Saat perjalanan pun berlanjut lagi kami sering ditertawakan oleh ekspresi rival, teman sekelas-ku yang duduk di samping wahid. Dia adalah lelaki yang mabuk perjalanan. Saat wahid nyaris menyerempet mobil, aku dan teman-teman tertawa serempak karena ekspresi rival yang lucu saat kaget. “wahid, ada ba prank pa ana kau ini?” Tanya Rival. sontak Aku menoleh sejenak pada wahid yang juga ikut tertawa dengan pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh rival. Perjalanan unik, lucu dan meski dengan medan tempur yang menegangkan ini membuatku merasakan kebahagiaan tersendiri. Saat perjalanan sampai pada waktu malam akhirnya kami tiba dikota yang dituju ini, kota yang kerap kali dinamakan dengan kota yang mayoritas-nya adalah non muslim. Yah ini adalah kota manado! Saat sampai pada jembatan soekarno yang tak pernah aku dengar dari siapapun, ditempat ini aku terpesona oleh keindahan yang disajikan olehnya. Keindahan gemerlap lampu-lampu diatasnya yang membuat sekitar lautan dijembatan soekarno ini nampak terlihat cantik. Aku pun tak melewatkan waktu sama seperti teman-teman  yang lain untuk mengabadikan cantiknya jembatan ini dalam sebuah video. Setelah melewati tempat ini kami pun tetap meneruskan perjalanan sampai pada titik tempat yang akan kami tempati untuk beberapa hari. Dan sudah  aku duga bahwa kecepatan mobil ini akhirnya sampai terlebih dahulu sebelum mobil dan bus-bus lain. Huh_- akhirnya detak jantung-ku berdetak dengan normal saat sampai ditempat ini, di mess haji tuminting. Aku dan teman-teman pun bergegas menuju kamar masing-masing yang disediakan oleh panitia. Saat istirahat aku mendengar banyak yang ribut diakibatkan oleh bakcok disekitar tempat tinggal ini yang tidak berfungsi sebab handpone setiap orang itu lobet. Aku tidak terlalu peduli akan hal-hal seperti ini sebab aku bukanlah orang yang terlalu akrab dengan handpone, maka setelah aku berbaring untuk istirahat aku pun tak sadar telah dibawa ke alam mimpi.
Second day: Rabu, 15 Januari 2020.
Saat tiba pukul 04:00 pagi aku pun terbangun dari tidur yang lelap dan beranjak kedalam kamar mandi. Setelah mandi dan membersihkan tubuh aku bergegas mengganti pakaian dengan rapi sesuai pakaian yang diinstruksikan oleh panitia. Saat semua selesai aku dan teman-teman pun turun dan bersiap-siap untuk berangkat demi melakukan observasi disekolah yang dituju. Banyak kendala yang aku alami dan teman-teman kelompok 11. Mulai dari saling ribut dengan kelompok 11 di karenakan pengubahan jadwal sekolah yang diubah secara tiba-tiba seperti ini. Dan mengakibatkan saling menyalahkan antar kelompok. Kali ini aku pun tetap berlapang hati, kami kelompok 11 pun meneruskan perjalanan menuju sekolah yang dituju, dan yang kedua kalinya pun hasilnnya tetap sama. Sebab sudah ada kelompok lain disekolah kedua yang kami tuju ini. Akhirnya tepat pada sekolah ketiga inilah tempat kami kelompok 11 melakukan observasi, di sekolah Madrasah Aliyah PKP Manado. Perjuangan kami serta rasa lelah dengan perjuangan ini sampai pada titik dan hasil memuaskan setelah selesainya hasil observasi kelompok 11. Saat selesai observasi, kami pun pun melanjutkan perjalanan menuju kampus IAIN Manado. Kami disambut baik dan hangat oleh orang-orang dikampus ini. Setelahnya kami pun beranjak pulang, see you keluarga IAIN Manado. kataku dalam hati saat mobil mulai meluncur meninggalkan kampus ini.
Third day : Kamis, 16 Januari 2020.
Tepat pukul 07:28 pagi aku dan teman-teman berkumpul untuk berangkat ke mantos 3 manado. Sesampainya disana aku dan teman-temanku masuk kedalam. Tak banyak yang aku lakukan selain mengamati teman-teman yang berselfi ria bersama dan aku pun sesekali mengamati tempat mewah ini. Dan agenda selanjutnya, adalah jalan-jalan ke danau linow tomohon Manado. Sesampai-nya ditempat ini aku lebih menyukainya sebab, pemandangan yang asri dan pohon-pohon hijau yang menjulang tinggi, bahkan suasana yang disajikan begitu menenangkan ditambah dengan panorama danau hijau yang sangat indah dipandang mata. Aku dan teman-ku yang bernama Sri berjalan perlahan menuruni tangga untuk menuju kebawah danau yang dipenuhi dengan banyak-nya orang-orang yang lebih dulu berada ditempat cafe yang berdampingan dengan danau ini. Saat turun aku tidak mengerti dengan bahasa orang-orang asing yang tengah bercerita di cafe ini, setelah kuamati lebih jauh ternyata ada juga orang korea dan china di tempat seperti ini. entahlah dari bahasa mereka saja aku sudah dibuat pusing. Aku pun mengabadikan moment di danau ini bersama teman-teman yang lain. Setelah menjelang malam, seusai sholat magrib kami pun beranjak pulang ke asrama haji tuminting manado. Betapa lelahnya perjalanan kami hari ini, tetapi aku menikmati setiap perjalanan dikota ini dengan rasa bahagia.
Last day: Jum’at, 17 Januari 2020.
Allahuakbar.. dan tepat pada hari ini adalah hari terakhir kami berada dikota manado. Ada rasa sedih bercampur bahagia yang aku rasakan bersamaan. Sebab hari inilah hari terakhir kebersamaan aku dan teman-teman beserta dosen-dosen yang turut serta hadir dalam kebersamaan ini. Aku pun naik kedalam mobil yang sama seperti pemberangkatan aku dihari pertama. Bedanya, kali ini pak kajur pindah ke mobil ini. Dan teman-temanku yang bernama Samsul,Kak Sabry dan Ade pindah ke bus. Selama perjalanan pulang aku dan teman-temanku disuruh untuk turun sejenak dari mobil oleh pak kajur untuk mengambil moment ditempat jembatan soekarno. Dan tempat kedua selama perjalanan diteruskan, kami pun turun di sebuah pantai babo yang terletak di bolmong. Banyak cerita yang tidak mengenakan dihari ini dan ditempat ini sebab, banyak teman-teman yang mengeluh karena lapar menunggu makanan yang datang dalam waktu yang lama. aku tahu rasanya menunggu itu memang tak enak dan membosankan, apalagi yang ditunggu adalah bagian dari hidup kita. eh ralat! bagian dari kebutuhan kita. banyak kekecewaan yang dirasakan dan diluapkan oleh mereka tepat di hari ini. karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya mereka pun memilih naik ke bus, aku dan teman-teman yang tersisa bersama pak kajur akhirnya makan ditempat ini. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan pulang dan berhenti lagi di pantai pinagut, dipantai ini sangat indah tapi sayang waktunya tidak tepat karena sudah malam. Kami makan sejenak dan melanjutkan perjalanan pulang. Saat perjalanan pulang aku merasakan sesuatu yang aneh untuk yang pertama kalinya, entah rasa apa itu biarlah hanya aku dan tuhan yang tahu. Setelah sampai di kota Limboto aku dan Vina diantar sampai ketempat tujuan oleh wahid dengan selamat. Cerita kali ini kita tutup dengan see you Kota Manado. Siapa tahu kita bertemu dilain hari atau dilain waktu. Syukron atas pengalaman suka dan duka, tangis dan tawa yang selama ini menemani perjalanan kita yang disambut dengan Cerah dikota Manado untuk yang pertama kalinya.


“Kita tidak akan pernah mampu memaksa agar keadaan selalu sejalan dengan keinginan kita. Cara terbaik sebelum menentukan  sebuah pilihan adalah, sediakan ruang kosong dalam hatimu untuk keadaan yang tak pernah diinginkan itu.” 
Dan aku telah menyediakan ruang tersendiri untuk hal-hal pahit yang dinamakan duka dan sedih dalam memori yang akan kusimpan dalam bait yang bernama sendu dan masa lalu. Sebab, untuk menuntut atau menyesali hal-hal yang telah berlalu sungguh, ku rasa itu tak perlu. Mari berdamai dengan masa lalu, jadikan hari kemarin sebagai sebuah pembelajaran yang pasti tersimpan hikmah di dalamnya.








   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

FIRST MOMENT IN THE MANADO CITY

Bismillahhirrohmanirrohim..    Banyak hal yang tidak bisa diucapkan, bahkan ucapan rasa syukur pun rasanya tidak akan cukup. Bahagia d...