Bismillahhirrohmanirrohim..
Banyak hal yang tidak bisa diucapkan, bahkan ucapan
rasa syukur pun rasanya tidak akan cukup. Bahagia dan sebuah pengalaman baru
yang tertata rapi dalam bait kenangan. Jarak seakan mengalah dan mempersatukan
kita dalam persaudaraan demi tercapainya satu tujuan. Kita adalah keluarga
meski tanpa hubungan dan ikatan darah yang sama.
“Kita bagai jajaran wayang di layar. Takdir hidup
telah ditentukan oleh sang maha kuasa. Manusia hanya sekedar menjalani apa yang
sudah digariskan. Bedanya dengan wayang, kita masih punya pilihan akan dibawa kemana
arah hidup ini. Walau pada akhirnya Allah yang punya kuasa untuk mengabulkan
keinginan itu atau tidak. Dan kuasa Allah lah yang mengabulkan keinginan kita
yang memilih kota manado menjadi pengalaman pertama yang akan kita kunjungi
bersama.
First day : Selasa, 14 januari 2020.
Tepat pukul 03:00 pagi alarm berbunyi dan
membangunkanku dari mimpi yang indah, saat bangun aku mengucap doa dan rasa
syukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah dibangunkan dalam keadaan
sehat hari ini. Aku bangun dan segera mandi, tak lupa pula sebelum mandi aku
sarapan terlebih dahulu. Sayangnya aku belum bisa sholat subuh kali ini karena
fitrahnya wanita yang didatangi tamu sekali dalam sebulan. Setelah mengatur
semua barang-barang yang akan kubawa akhirnya tiba saatnya aku pergi ketitik
pertemuan yang akan diberangkatkan bersama pagi ini. Aku diantar oleh kakak
sepupuku di masjid Agung baiturrahman limboto, ku lihat sudah banyak yang datang,
sebagian kecilnya belum datang, dan sebelum berangkat kami semua diarahkan
untuk sholat 2 rakaat sebelum perjalanan. Dan setelah semuanya telah tiba
dilokasi dan peserta-nya lengkap seusai sholat akhirnya kita mengatur tempat
duduk setiap orang yang telah di atur dan disediakan oleh panitia sesuai nama
yang tertera didalam bus. Sayangnya aku dibuat pusing karena sedari tadi
menunggu namaku yang tak kunjung kutemukan dalam tulisan yang terpampang
disetiap bus. Dan ternyata setelah melapor bersama teman-temanku yang senasib
akhirnya aku dan teman-teman kelompok-ku yang diarahkan ke dalam mobil bukan ke
dalam bus. Aku,vina,TSuti, dan teman-teman kelompok Laki-laki yaitu Samsul,Ade
dan Kak Sabry naik dalam mobil yang sama. Saat duduk aku mulai beradaptasi
dengan teman-teman yang tidak ku kenal. Disinilah awal jiwa introvert-ku harus
ku paksa untuk bisa menyesuaikan keadaan dan hati yang awal-nya tidak terbiasa
dengan keramaian. Lama kelamaan aku pun mulai terbiasa dan nyaman berbicara dan
sesekali bercanda dengan mereka. “Clara, kamu mabuk selama perjalanan tidak?” Tanya
Vina.
“Alhamdulillah tidak,,Tergantung siapa yang membawa
mobilnya.” Jawabku. Vina pun memberitahuku bahwa wahid yang membawa mobil kali
ini adalah orang yang sangat suka melaju dalam berkendara. Dan alhasil apa yang
dikatakan Vina benar, karena wahid sangat cepat membawa mobil saat
pemberangkatan dimulai yang diawali oleh bus-bus yang berangkat di depan
sebelum mobil kita meluncur. Saat mobil mulai meluncur kurasa masih dalam mode
normal saja, tapi saat memasuki perjalanan ke isimu mobil kurasa kali ini bukan
berpijak ditanah tapi seakan terbang melayang karena kecepatan mobil yang
dibawa sangat cepat. Jantungku seakan mau keluar dari sarangnya karena saking
takutnya merasakan dan melihat mobil melaju dengan kecepatan seperti ini, bahkan bus dan mobil dosen yang ikut dalam kegiatan ini yang paling depan saja
sudah dilambung dan dilewati oleh mobil ini. Subhanallah... betapa takutnya aku
merasakan pengalaman pertama yang disajikan dengan rasa takut karena kecepatan
mobil yang dibawa oleh seorang yang bernama wahid kali ini. tapi dengan
tenang dalam hati aku selalu berdoa agar diberi keselamatan oleh Allah selama
perjalanan. Meski dalam keadaan yang was-was aku selalu
tertawa bersama teman-teman karena pembahasan selama perjalanan berlangsung. Saat
mendekati waktu dzuhur akhirnya kami diberhentikan dalam kediaman salah satu
panitia yang bernama Karama. Kami istirahat, sholat dan makan terlebih dahulu
dirumahnya. Ibunya karama sangat baik dan ramah dalam menyambut kedatangan
kami. Setelah ishoma kami pun meminta izin kepada ibunya karama yang disapa
dengan sebutan “Umi” untuk melanjutkan perjalanan. Saat perjalanan diteruskan
tak banyak yang kami lakukan didalam mobil selain aku dan teman-temanku mulai
mengantuk. Aku tak bisa tidur selama perjalanan karena takut dengan mobil yang
selalu melaju dengan cepat ini. Aku pun hanya selalu memandangi
pemandangan-pemandangan yang disajikan oleh alam semesta selama perjalanan. Pohon-pohon
yang asri nan-hijau sangat memberi kesan ketenangan. Saat waktu ashar
berlangsung hujan turun perlahan membahasi bumi. Kami pun berhenti disebuah
masjid kecil yang terletak disebuah desa yang kami lewati. Wahid berkata dia
sangat mengantuk maka kami pun memberi dia waktu sehabis sholat untuk tidur
sejenak di masjid itu. Setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan. Saat perjalanan
pun berlanjut lagi kami sering ditertawakan oleh ekspresi rival, teman
sekelas-ku yang duduk di samping wahid. Dia adalah lelaki yang mabuk
perjalanan. Saat wahid nyaris menyerempet mobil, aku dan teman-teman tertawa
serempak karena ekspresi rival yang lucu saat kaget. “wahid, ada ba prank pa ana
kau ini?” Tanya Rival. sontak Aku menoleh sejenak pada wahid yang juga ikut
tertawa dengan pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh rival. Perjalanan unik,
lucu dan meski dengan medan tempur yang menegangkan ini membuatku merasakan
kebahagiaan tersendiri. Saat perjalanan sampai pada waktu malam akhirnya kami
tiba dikota yang dituju ini, kota yang kerap kali dinamakan dengan kota yang
mayoritas-nya adalah non muslim. Yah ini adalah kota manado! Saat sampai pada
jembatan soekarno yang tak pernah aku dengar dari siapapun, ditempat ini
aku terpesona oleh keindahan yang disajikan olehnya. Keindahan gemerlap
lampu-lampu diatasnya yang membuat sekitar lautan dijembatan soekarno ini nampak
terlihat cantik. Aku pun tak melewatkan waktu sama seperti teman-teman yang lain untuk mengabadikan cantiknya
jembatan ini dalam sebuah video. Setelah melewati tempat ini kami pun tetap
meneruskan perjalanan sampai pada titik tempat yang akan kami tempati untuk
beberapa hari. Dan sudah aku duga bahwa
kecepatan mobil ini akhirnya sampai terlebih dahulu sebelum mobil dan bus-bus
lain. Huh_- akhirnya detak jantung-ku berdetak dengan normal saat sampai
ditempat ini, di mess haji tuminting. Aku dan teman-teman pun bergegas menuju
kamar masing-masing yang disediakan oleh panitia. Saat istirahat aku mendengar
banyak yang ribut diakibatkan oleh bakcok disekitar tempat tinggal ini yang
tidak berfungsi sebab handpone setiap orang itu lobet. Aku tidak terlalu peduli
akan hal-hal seperti ini sebab aku bukanlah orang yang terlalu akrab dengan
handpone, maka setelah aku berbaring untuk istirahat aku pun tak sadar telah
dibawa ke alam mimpi.
Second day: Rabu, 15 Januari 2020.
Saat tiba pukul 04:00 pagi aku pun terbangun dari
tidur yang lelap dan beranjak kedalam kamar mandi. Setelah mandi dan
membersihkan tubuh aku bergegas mengganti pakaian dengan rapi sesuai pakaian
yang diinstruksikan oleh panitia. Saat semua selesai aku dan teman-teman pun
turun dan bersiap-siap untuk berangkat demi melakukan observasi disekolah yang
dituju. Banyak kendala yang aku alami dan teman-teman kelompok 11. Mulai dari
saling ribut dengan kelompok 11 di karenakan pengubahan jadwal sekolah yang diubah secara tiba-tiba seperti ini. Dan mengakibatkan saling menyalahkan antar kelompok. Kali
ini aku pun tetap berlapang hati, kami kelompok 11 pun meneruskan perjalanan
menuju sekolah yang dituju, dan yang kedua kalinya pun hasilnnya tetap sama. Sebab
sudah ada kelompok lain disekolah kedua yang kami tuju ini. Akhirnya tepat pada
sekolah ketiga inilah tempat kami kelompok 11 melakukan observasi, di sekolah
Madrasah Aliyah PKP Manado. Perjuangan kami serta rasa lelah dengan perjuangan
ini sampai pada titik dan hasil memuaskan setelah selesainya hasil observasi
kelompok 11. Saat selesai observasi, kami pun pun melanjutkan perjalanan menuju
kampus IAIN Manado. Kami disambut baik dan hangat oleh orang-orang dikampus ini. Setelahnya
kami pun beranjak pulang, see you keluarga IAIN Manado. kataku dalam hati saat mobil mulai meluncur meninggalkan kampus ini.
Third day : Kamis, 16 Januari 2020.
Tepat pukul 07:28 pagi aku dan teman-teman berkumpul
untuk berangkat ke mantos 3 manado. Sesampainya disana aku dan teman-temanku
masuk kedalam. Tak banyak yang aku lakukan selain mengamati teman-teman yang
berselfi ria bersama dan aku pun sesekali mengamati tempat mewah ini. Dan agenda
selanjutnya, adalah jalan-jalan ke danau linow tomohon Manado. Sesampai-nya ditempat
ini aku lebih menyukainya sebab, pemandangan yang asri dan pohon-pohon hijau
yang menjulang tinggi, bahkan suasana yang disajikan begitu menenangkan
ditambah dengan panorama danau hijau yang sangat indah dipandang mata. Aku dan
teman-ku yang bernama Sri berjalan perlahan menuruni tangga untuk menuju kebawah
danau yang dipenuhi dengan banyak-nya orang-orang yang lebih dulu berada
ditempat cafe yang berdampingan dengan danau ini. Saat turun aku tidak mengerti
dengan bahasa orang-orang asing yang tengah bercerita di cafe ini, setelah
kuamati lebih jauh ternyata ada juga orang korea dan china di tempat seperti
ini. entahlah dari bahasa mereka saja aku sudah dibuat pusing. Aku pun mengabadikan moment di danau ini bersama teman-teman yang lain. Setelah
menjelang malam, seusai sholat magrib kami pun beranjak pulang ke asrama haji
tuminting manado. Betapa lelahnya perjalanan kami hari ini, tetapi aku menikmati
setiap perjalanan dikota ini dengan rasa bahagia.
Last day: Jum’at, 17 Januari 2020.
Allahuakbar.. dan tepat
pada hari ini adalah hari terakhir kami berada dikota manado. Ada rasa sedih
bercampur bahagia yang aku rasakan bersamaan. Sebab hari inilah hari terakhir
kebersamaan aku dan teman-teman beserta dosen-dosen yang turut serta hadir dalam
kebersamaan ini. Aku pun naik kedalam mobil yang sama seperti pemberangkatan
aku dihari pertama. Bedanya, kali ini pak kajur pindah ke mobil ini. Dan teman-temanku
yang bernama Samsul,Kak Sabry dan Ade pindah ke bus. Selama perjalanan pulang
aku dan teman-temanku disuruh untuk turun sejenak dari mobil oleh pak kajur untuk
mengambil moment ditempat jembatan soekarno. Dan tempat kedua selama perjalanan
diteruskan, kami pun turun di sebuah pantai babo yang terletak di bolmong. Banyak
cerita yang tidak mengenakan dihari ini dan ditempat ini sebab, banyak
teman-teman yang mengeluh karena lapar menunggu makanan yang datang dalam waktu yang lama. aku tahu rasanya menunggu itu memang tak enak dan membosankan, apalagi yang ditunggu adalah bagian dari hidup kita. eh ralat! bagian dari kebutuhan kita. banyak kekecewaan yang dirasakan dan diluapkan oleh mereka tepat di
hari ini. karena sudah terlalu lama menunggu akhirnya mereka pun memilih naik ke bus, aku dan teman-teman yang tersisa
bersama pak kajur akhirnya makan ditempat ini. Setelah itu, kami pun
melanjutkan perjalanan pulang dan berhenti lagi di pantai pinagut, dipantai ini
sangat indah tapi sayang waktunya tidak tepat karena sudah malam. Kami makan
sejenak dan melanjutkan perjalanan pulang. Saat perjalanan pulang aku merasakan
sesuatu yang aneh untuk yang pertama kalinya, entah rasa apa itu biarlah hanya
aku dan tuhan yang tahu. Setelah sampai di kota Limboto aku dan Vina diantar sampai
ketempat tujuan oleh wahid dengan selamat. Cerita kali ini kita tutup dengan see
you Kota Manado. Siapa tahu kita bertemu dilain hari atau dilain waktu. Syukron
atas pengalaman suka dan duka, tangis dan tawa yang selama ini menemani
perjalanan kita yang disambut dengan Cerah dikota Manado untuk yang pertama
kalinya.
“Kita tidak akan pernah mampu memaksa agar keadaan selalu sejalan dengan keinginan kita. Cara terbaik sebelum menentukan sebuah pilihan adalah, sediakan ruang kosong dalam hatimu untuk keadaan yang tak pernah diinginkan itu.”
Dan aku telah menyediakan ruang tersendiri untuk hal-hal pahit yang dinamakan duka dan sedih dalam memori yang akan kusimpan dalam bait yang bernama sendu dan masa lalu. Sebab, untuk menuntut atau menyesali hal-hal yang telah berlalu sungguh, ku rasa itu tak perlu. Mari berdamai dengan masa lalu, jadikan hari kemarin sebagai sebuah pembelajaran yang pasti tersimpan hikmah di dalamnya.